Sat, 23 September 2017

info@batakpride.com

Tagor Tampubolon: Kisah Hidup & Berkarya lewat Musik

- Sat, 09 April 2016 -

IMG-20160323-WA0001

Batakpride.com | Suatu kehormatan untuk Batakpride bisa duduk bersama sang Pencipta lagu yang satu ini. Karyanya di dunia musik Batak amat membanggakan. Penentu sebuah lagu memang ditangan sang penyanyi sebagai penghidupnya, tetapi keahlian membuat lirik dan arransemen perlu skill & feel yang tinggi. Beliaulah Bapak Tagor Tampubolon. Bagi yang tahu tidak asing lagi namanya, bagi yang belum, lets just say we are here to showcase our respect for his body of work. Kelahiran 1960, Bapak 4 anak dengan Ibu boru Sitohang tersebut menekankan setiap orang untuk berkarya dan mempunyai mimpi dalam hidup. Setiap kali menceritakan hidupnya di fase tertentu, Pak Tagor selalu bertanya balik, “kalau kau apa targetmu?”

Tahun ’76 merantau ke Jakarta dari kampung halaman di desa Parlanggean, Tagor muda masih polos dan ilmu musiknya terbatas. Berguru dengan Johanes Purba, Ia berikan segala waktu dan tenaga belajar instrumen musik dan nada. “Musik itu jangan dibuat susah, mantapkan dulu mengenal nada doreminya”. 3 tahun konsisten belajar musik, tahun ’79 menulis lagu pertamanya. Apakah langsung diterima pasar? Tidak sama sekali. Great things take time. 16 tahun kemudian di tahun ’95 lah baru karyanya membludak dan diterima masyarakat luas. Benak bertanya, di selang waktu 16 tahun lama itu pendengar musik terarah kemana? Dari kacamata beliau, saat itu lagu Batak terlalu sedih dan bernuansa “menangisi jaman dulu.” Misinya pada saat itu “merubah selera masyarakat.” Ia ingin membuat lagu yang penuh petuah, nasihat, dan harapan. Lagu itu berjudul: Poda (petuah/nasihat).

Lagu Poda membuat namanya dikenal dan lagu-lagu berjenis podalah yang selanjutnya dikembangkan. Jenderal M. Panggabean salah satu penggemar karyanya pada jaman itu yang mempunyai pesan berbeda dari yang sudah ada. Lirik lagu Poda menggambarkan ciri khas orang Batak khususnya dihubungan antara bapak dan anak. Banyaknya generasi muda Batak yang pergi merantau demi masa depan menuntut orang tua melepaskan anak dengan berat hati. Secara lirik, lagu Poda memang memiliki makna yang luar biasa dalamnya. Karya selanjutnya: Tangiang Ni Dainang. Lirik dan nada yang sangat mengena di hati. Penasaran, kami bertanya cerita dibalik lagu tersebut. Waktu SMP, Tagor muda sering masuk ke kamar Ibunya dan melihat sang Ibu berdoa sambil menangis. Ternyata, sang Ibunda sedang berdoa demi masa depan dan kehidupan anak-anaknya agar mereka berhasil di kemudian hari.

Karya lainnya yang sudah tidak asing lagi: Boru Panggoaran. Lagu tersebut diciptakan lantaran melihat cara pandang orang Batak yang umumnya lebih “meninggikan” anak laki-laki sebagai pembawa Marga. Bukan kebetulan anak pertamanya seorang boru (Melda Tampubolon), dan Ia ingin membuat lagu yang memberi penghargaan kepada para anak perempuan. Sibuknya di dunia musik pada saat itu sangat memakan waktunya dengan keluarga. Dengan kesepakatan dan kepercayaan penuh dari Istri, Ia berkata “tanpa backup Istri jangan harap berhasil”. Terciptalah: Inang ni Gellengku. Penghargaan untuk Istri sebagai penopang Doa dan pendorong utama dirinya. Bagaimana proses ketika membuat lagu? Jawabannya simple: “Memusatkan pikiran dan berdoa kepada Tuhan karya apa selanjutnya yang mesti saya buat.”

tagortampu

Saat ini bapak Tagor Tampubolon masih sibuk dengan dunia musik. Ia mengelola musik studionya dan bekerja sama dengan beberapa artis sebagai arransemen. Ia juga terlibat di soundtrack dokumentasi film Nommensen. Selain itu, tidak lama ini beliau dapat penghargaan dari Ephorus HKBP karena keterlibatannya di lagu-lagu gereja. Beliau juga ditunjuk sebagai Ketua Asosiasi PPLB (Persatuan Pencipta Lagu Batak) yang akan disahkan tak lama lagi. Untuk music business itu sendiri, Ia berharap agar bisnis musik mengalami perubahan. “Jangan lagu-lagu Batak kita sampai ke tangan yang salah.” Dirinya kepingin agar kehidupan mayoritas musisi Batak lebih sejahtera lagi kedepannya. Musisi Batak sudah banyak, tapi mesti ada dari kalangan kita sebagai pebisnis yang bisa menghasilkan nilai lebih kepada para musisi tersebut.

Salah satu filosofi hidupnya adalah “Jangan lupa tanah asalmu”. Ajaran ini dipraktekannya dengan membangun gereja di Parlanggean, kecamatan Panombean, Sumatera Utara tempat kelahirannya. Ia berpesan agar generasi muda Batak menjadi saluran berkat dan selalu mengutamakan kerjasama demi menghasilkan perubahan besar. “Manusia harus punya marwah dan memiliki tongkat sendiri” ucapnya diakhir pertemuan kami. Sukses selalu Bapak Tagor Tampubolon.

  • Share This

Artikel Terkait

Tidak Ada Artikel Terkait

komentar

Follow us on...